Hai...hai…apa kabar? Semoga baik, kalo engga pun ga apa. I have something for you …
Allahu akbar Allahu akbar, Laa ilaha illallahh
wallaahu akbar, Allaahu akbar walillahil hamd…
(Takbir berkumandang)
Sudah
setahun berlalu, semenjak hari raya Kurban yang terakhir kali yaitu tahun lalu.
Tahun lalu, aku merayakannya di Bandung, bareng-bareng dengan yang lainnya. Waktu
itu masih full team. Deep talk, sholat jama’ah di masjid salman, dan bakar-bakar
sate di asrama. Hmmm...
Agak berbeda dengan sekarang...
Saat ini posisiku di rumah. Berjauhan
dengan yang lainnya. So so lebarannya barengan sama orang rumah. Vibenya zuzur,
tidak seperti hari raya…berasa seperti hari-hari biasa… selumrahnya aja. Maybe
karena kami hanya bertiga karena adek posisinya di Lombok. Dan tidak mudik…alhasil,
kami sekeluarga berlebaran di tempat berbeda dengan zona waktu yang agak
berbeda. Ngomong-ngomong, kalo dipikir dari zaman ke zaman sepertinya memang
begitu ya… ada semacam tradisi tersirat. Kalo Idzul Fitri adalah momen dimana
keluarga pasti kumpul, semacam suatu keharusan. Identik deh dengan yang
namanya, mudik. Bahkan, dari sebelum hari-H sudah banyak persiapan yang
dilakukan dalam rangka menyambutnya… banyak banget gitu kayanya list acara yang
dirancang. Sementara, Idzul Adha agaknya biasa-biasa saja. Ga harus tuh, yang
namanya mudik-mudikan. Ya begitulah…Tapi heran ga sih?
Dan… kalo di sekitar rumahku sebagian orang
ada yang berlebaran di hari Rabu dan ada juga hari Kamisnya..Karena aku anaknya
ngikut mayoritas suara, jadi aku ikutan di Hari Kamis. Ga deng… ya memang
karena sejak kecil aku dibiasakan seperti itu. Di mana bumi dipijak di situ
langit dijinjing. Karena aku lahir dan gede di Indonesia, secara otomatis aku
hidup di bawah naungan negara ini. Mengikuti ketetapan dan ketentuan yang sudah
dibuat oleh pihak -pihak yang memang punya otoritas dan dipercaya. (Pencitraan
kan 😊).
Urusan benar dan salah belakangan, karena pihak-pihak yang ditunjuk tentu adalah
orang-orang yang tahu hukum dan paham dengan konsekuensi dari setiap keputusan
dan tindakan yang diperbuat.
Noted ya : sama sekali tidak ada persiapan
untuk berlebaran!
Ketika malam sebelum sholat, pun aku hanya
lontang-lantung di kamar. Kalaupun kirim-kirim ucapan, hanya sekenanya dan
seniatnya (astagfirullah maap..). Tapi ketahuilah, fitrah Idzul Adha tetap ga
memudar. Mungkin memang karena keadaan dan aku yang sudah semakin umur jadi ya
udah aja…
Paginya aku dan mak bapak, bangun lebih
karena rencananya kami sholat di masjid kompleks. Letaknya, di pintu gerbang depan
kompleks. Posisi rumahku ada di paling belakang. Kebayang kan ujung ketemy ujung.
Jadi,karena niatnya memang mau jalan kaki…kami harus spare waktu lebih supaya
ga telat (pengalaman, nyampe tempat sholat tau -tau dah khotbah). Selain
antisipasi telat juga menghindari malunya sih wkwk 😊.
***
Dari segi OOTD, dari bertiga aku adalah yang paling simple. Lebih terlihat ga niat kan? Atasan memakai sweeter (eca punya…), bawahannya training legend yang biasa ku bawa ke mana-mana. Juga pake kerudung hitam dan jangan lupa! Sendalnya juga item. Fix, lebih cocok untuk pergi takziah. Udah gitu nenteng-nenteng mukena yang digulung di dalam sajadah. Ckckck..
Padahal biasanya, makku bawa tas jinjing
kain dan aku biasa titip ke sana. Jadi tinggal badan doang. Cape juga ternyata
jalan kaki, mayan pegel. Sampai masjid, kerumunan jamaah belum terlalu ramai
dan tidak terlalu berdesak-desakan. Ga lama sholat Ied dan fokus mendengarkan
khotbah.
...
Abis sholat pulang deh…
Nah..nah… ada lagi kebiasaan yang cukup
mencolok bedanya ketika sholat di sini dan saat di kampung. Kalo di kampung
biasanya setelah sholat, jama’ahnya ga kesusu bubar, mereka akan keliling sambil
jalan untuk bersalaman. Sedangkan, waktu di masjid kemarin… sholat beres…semuanya
bubar..ngibrit dan sibuk masing-masing dengan barang bawaannya. Idk, karena
memang efek setelah pandemic atau udah begitu. Oops, aku juga baru sadar…
Pulang-pulang dan sampe rumah, langsung
berebah, ya ampun masih muda udah kaya jompo rasanya. Cape banget, jalan begitu
aja udah ngos-ngosan wkwk…efek terlalu lama berdiam diri di kamar.
Setelahnya ngapain? Tidak ada.
Di kompleks ku, prosesi sembelih hewan
kurban sudah dilakukan kemarinnya dan selesai di hari itu juga…sehingga di hari
berikutnya sudah tidak apa-apa… Gitu…
Along the day, kami hanya rebahan…gegoleran.
.
.
.
Semoga ini tidak kedaluarasahh!!! wkwkwk
***
12/07/2023
Hai...hai…apa kabar? Semoga baik, kalo engga pun ga apa. I have something for you …
Sekarang udah jam 18.06 WIB, hari Minggu… hari kedua aku
ditinggal sendirian di rumah. Yeayy… Berasa ngrantau lagi de ah. Ayah dan ibu selama
beberapa hari ke depan sedang akan berada di Jakarta buat menghadiri akad dan
resepsi pernikahan kakak sepupu tertuaku. Jadi sebetulnya bukan purely
bepergian yang sengaja untukjalan-jalan si. Cuma memang sudah diagendakan dari beberapa
bulan yang lalu. Gitu…Dan aku decided untuk memilih stay at home. Ayah
dan ibu berangkat jum’at siang kemaren, kebetulan dapet tiket yang langsung
bisa naik dari stasiun Sidoarjo, jadi ga perlu ribet untuk pergi ke stasiun
gubeng dulu. Aku juga bisa nganterin.
***
Kerena sendirian jadi bingung mau ngapain… kemarin dan hari
ini ga terlalu banyak yang dilakukan juga. Sejauh ini belum merasa bosan, jadi
betah-betah aja di rumah. Beginilah nasib anak gadis jomblo dan masih setia
jadi job seeker, penggaweannya hanya rebahan dan ngedep laptop seharian.
Kemarin, aku sempat keluar rumah. Habis dzuhur visit rumah Ajim.
Dan…karena di hari Jum’at sore (pas banget setelah aku baru balik dari
stasiun), doi menanyakan kunjunganku ke rumahnya jadi atau tidak. Aku bilang
iya. Namun, setelahnya masih ada tanggapan lain darinya yang malah berujung
pada penawaran. Kondangan! Aku diminta untuk menemaninya kondangan di salah
satu kerabat (Budhe)nya. Kakak sepupunya menikah. Kediaman saudaranya itu tidak
jauh dari rumah Ajim. Lantas aku mau-mau saja. Karena aku ga mau riweh, jadi
kami tidak terlalu memusingkan persiapan aneh-aneh untuk sekedar kondangan.
Pikirku, mengenakan busana dan sopan sudah cukup.
Oke, berikutnya ku putuskan untuk mengubah jadwalku ke rumah
Ajim. Awalnya aku ingin datang agak pagi, supaya pulangnya tidak terlalu sore. Berhubung
ada perubahan rencana dan acara di kediaman kerabatnya di sore hari, maka aku
baru otw sehabis dzuhur.
Pagi yang luang menjadi kesempatan buat beberes rumah dan
tidur hihi. Baju yang ku kenakan simple dengan warna khas yang melekat padaku,
hitam-hitam. Celana bahan dengan kaos hitam, untuk outernya memakai cardigan
agak kecoklatan. Menyesuaikan warna busana ajim. Aksesorisnya, hanya mengenakan
kalung ala-ala dan cincin. Iseng-iseng aku poles kuku memakai cat warna coklat.
Dari rumah aku belum menggunakan outer, hanya jaket saja. Outer dan
printilan lainnya ku masukkan di dalam paper bag mini. Sampai di sana, masih
sempatnya aku goler-goler dan berbincang santai.
Baru deh ketika menjelang sore, kami bersiap. Aku mengeluarkan senjata dan perlengkapkanku… sedikit memoles wajah dengan riasan tipis. First time, memberanikan show off hasil belajar dandan, meskipun ga bisa dibilang berprogress juga si wkwkwk. But it’s okay.
Dan berangkatlah kami, ke tempat kerabat yang memiliki hajat. Aku merasa asing di sana, sebab satu-satunya yang ku kenal truly deeply hanya Ajim. Fyi, ini kondanganku yang pertama kali tanpa berbarengan dengan orang tua. Super kikuk. Apalagi ootd ku lebih cocok buat acara formal (ya tau kan, kumaha biasanya saya). Tapi ga lama, aku menguasai keadaan…asek…Lebih ke arah bodo amat juga…setiap ditanya ya dijawab sambil disenyumin ajah…
Makan…balik
pulang… aku sekalian pamitan untuk pulang ke rumah supaya tidak terlalu sore.
Then…seharian ini lebih banyak otak-atik laptop untuk
menyelesaikan suatu tugas. Lebih tepatnya nyicil. Asik dari pagi sampai ga terasa,
tiba-tiba sudah jam 4 sore. Sangat ansos bukan 😊. Karena mata dah terasa pegel, lebih baik
aku doing something yang lain.
Bersih-bersih. Bikin sambel bajak dan goreng lele yang udah
disiapin sama ibu. Sayangnya, ditanganku lelenya jadi buruk rupa. Wajan yang
kupakai untuk menggoreng entah kenapa lengket, bisa dibayangkan kan apa yang terjadi?
Itu lele kulitnya nempel semua ke pinggiran wajan…lelenya nemplok di sana
beserta kulit-kulitnya…waktu diangkat alhasil lelenya telanjang dan tidak mulus
hehehe...Ga apa, setidaknya bisa dimakan.
Habis makan, lanjut mandi dan sesudahnya prepare untuk
magrib. Sajadah udah dibeber dan mukena sudah dipakai, tinggal sholat aja. Eh,
tetiba gelap. Oh man, no… mati lampu dong. Semakin menjadi-jadi karena
di luar hujan deres sekali. Makin mencekamlah suasana. Aku panik! Beruntungnya
hp ga jauh dari jangkauan, jadi bisa buru-buru nyalain senter. Sambil riweh
sendiri, aku cari lilin. Bersyukur sekali, nemu satu. Nyala deh… paling tidak
ada secercah cahaya penerang… Senter hp dan lilin ku taruh di posisi strategis.
Dan… setelah susah payah memposisikan keduanya, TIING!!! Lampunya nyala lagi ☹. Bapak-bapak PLN-nya suka bercanda deh… hmmm…
Cuma, waktu hujan tadi sejenak mengingatkanku dengan aku dan
Bandung, ketika aku masih stay di sana. Mulai melownya…
Jujur Bandung memang sengangenin itu. Semoga segera bisa ke
sana lagi..Aamiin.
.
.
.
Ngomong-ngomong, aku masih memikirkan rencana buat besok…
***
02/07/2023
Hi apa kabar? Semoga baik, kalo engga pun ga apa. I have something for you btw…
Enjoy reading!
Sekitar akhir Mei 2023, tanggal
30 (lupa harinya) … aku ngobrol sama Ajim. Ngomongin garis besar what I feel
about, karena dia yang menurutku capable untuk dihubungi dan bisa
kasih saran yang logis saat itu. Caused I don’t need sugar coating.
Mulai dari bahasan yang samar sampai sedikit lebih dalam. Gak hanya aku yang
sumpek, tapi doi juga. Akhirnya kami sepakat memutuskan untuk find out
something ke Malang.
Kalo ditanya ngapain? Ga ada
alasan khusus, butuh menemukan sesuatu yang baru, entah itu suasana selama
perjalanan, ketemu orang baru, singgah di suatu tempat yang asing, momen dan
kesan yang ga sama sekali disengaja, dan nuansa baru. Simpelnya, sedekah emosi
dengan membaur dalam perjalalanan.
Lalu, kalo ditanya kemana? Bingung
juga si jawabnya. I don’t have any idea of this. So, she is. Karena deep
down in mind cuma mau sekedar jalan aja, tidak mau merencanakan apa-apa dan
berekspektasi apa-apa. Sekedar melangkahkan kaki, keluar dari rumah sebelum
kembali lagi ke rumah. Seharian.
So, we spended that day
untuk jalan, kabur sementara dari realita haha…
***
Kami berangkat sekitar pukul 5
pagi. Sepanjang jalan malah tidur, wajar juga kan masih pagi buta. Ya, meskipun
sesekali ngobrol juga. Tiba di stasiun Malang pukul 8 kurang. Suasananya masih
sepi, selain dari karena memang bukan weekend, sengaja biar ga terlalu
riweh di perjalanan. Tempat pertama, kampung 3 warna. Karena ga terlalu jauh,
kami jalan kaki. Tempatnya penuh warna, sesuai dengan yang direpresentasikan
oleh namanya. Tebak apa yang kami lakukan pertama kali di sana? Betul, foto-foto. Ga lama ada bapak-bapak,
mungkin penduduk setempat yang menghampiri kami. Beliau mengarahkan untuk lebih
dulu beli tiket masuk.
Btw, kalo penasaran sama
sejarahnya bisa baca di
sini
Harganya 5000 perorang untuk
tiket masuknya. Aku agak kaget karena ternyata tiketnya berupa gantungan kunci
beragam bentuk. Lucu-lucu…Wawww… Cara mereka mengapresiasi mengesankan sekali.
Salut! Salut! Pengalaman pribadi, biasanya tiket masuk untuk tempat wisata
hanya berupa selembar kertas dengan ukuran bervariasi dan bentuk, misalnya
dibuat jadi gelang kalo kreatif. Ada juga yang pake stemple atau sekedar karcis
bujur sangkar.
Well, kami kembali berjalan agak
ke dalam. Sepintas pola dan susunan bangunannya serupa dengan yang ada di
Bandung (kalo pernah main ke daerah Plesiran dan Sangkuriang Dalam). Bedanya
rumahnya dicat warna -warni dan sekitarnya dihiasi pernak pernik. Kreatif! Faktanya
kampung dulunya ternyata tidak sewarna-warni seperti sekarang, berkat dorongan
dari mahasiswa yang punya kepeduliaan atas lingkungan sehingga mereka menyulap
kampung tersebut menjadi seperti sekarang.
Terdapat jalan setapak dekat
dengan batas perkampungan, di sana ada jembatan tinggi terbentang di atas
sungai Brantas. Pijakannya dibuat dengan kaca dan ada lampunya. Kelihatannya
kalau malam hari akan lebih indah dengan gerlapnya cahaya lampu yang juga
memantul ke air. Setelahnya kami kembali dan tidak lupa kulineran di sekitaran
sana. Jajan seblak. Yeah… harap memaklumi, lama hidup di Bandung.
Destinasi selanjutnya, …
MOG. Mall Olympic Garden.
Belasan taun hidup di Sidoarjo, baru paham kalau Malang juga ada Mall-nya.
Lagi-lagi hanya disambut keheningan, karena tempatnya baru saja di buka pukul
10. Yang di sasar ketika di sana adalah food court. Nyaman tempatnya.
Ada 2 jaman kami duduk ngobrol sambil ngemil ayam plus es teh rasa-rasa (ga
bole sebut merk, oops). Di depan kami, selisih satu bangku ada mas-mas. Kusut
banget tampangnya. Cukup mendistract obrolan kami. Bukan apa-apa, lebih karena
ga tega sekaligus bersyukur, setidaknya sesumpek-sumpeknya aku tidak terlihat
sekusut itu. Banyak spekulasi di kepala, seperti biasa. Tapi yowis, didoain aja
semoga apapun masalah masnya segera ketemu solusinya.
Menyempatkan untuk keliling
berharap menemukan toko buku, dari lantai paling atas sampai lantai satu. Faktanya,
tetep ga nemu. Kesimpulan yang didapat after muter-muter adalah bangunan MOG
mirip seperti TP 4. Dan, karena udah laper dan rencananya masih mau beli
oleh-oleh, setelah sholat kami putusan untuk kembali menuju stasiun Malang.
Untungnya tempat makan dan lokasi
oleh-oleh ada di sekitaran situ, jadi ga begitu ribet. Kami makan baso,
lumayanlah rasanya, tetapi ga segede ekspektasi. Ditambah satu kebodohan, aku
kebayakan menambahkan kecap. Kecapnya bukan cluster kecap-kecap yang biasa
orang rumah pake. Gimana ya? After taste-nya tuh, ada kasih rasa pahit. Tapi ya
sudahlah, karena sudah terlanjur, kan mubazir kalo tidak dihabiskan…
Habis makan kenyang, lanjut beli
oleh-oleh. Belinya ga aneh-aneh, kripik tempe. Lalu masih sisa 2 jam untuk
jadwal kereta kami. Tetapi karena mager untuk berpikir dan menentukan kemana
lagi tempat yang akan disatroni, akhirnya kami menunggu di stasiun. Dan berkat,
kebiasaan ogut yang harus sekali ke toilet sementara di ruang tunggu bagian
depan stasiun sama sekali tidak ada toilet dan semacamnya. Aku bisa masuk
(karena izin ke petugasnya) dan nunggu di dalem. Ga lama, Ajim… ku minta untuk
nyusulin ke dalam, parahnya doi mau lagi wkwkk… habisnya aga males kalau harus
bolak-balik lagi. Menunggulah kami di dalam sana sambil ngobrol dan charging
daya hp. Obrolannya ga begitu serius sebetulnya, tapi justru di sini malah
dapet kutipan yang mengena.
Ini bisa jadi reminder
untuk ku pun dengan kalian.
“Setiap orang itu punya masalah
dan ujiannya tersendiri, ga baik kalau terus menerus berputus asa, bersedih
berkepanjangan, dan selalu berprasangka buruk terhadap Tuhan, diri sendiri, dan
situasi. Sebab itu semua adalah muslihat iblis, mereka bergembira atas itu.
Jadi, alih-alih bersedih dan berputus aja, lebih baik untuk mengusahakan
sedikit demi sedikit apa saja yang dapat diupayakan, selalu berpositive
thinking, terutama berdo’a dan berprasangka baik terhadap Tuhan.”
Waaaw, menyentil sekali… lebih
dari sekedar cukup untuk pengingat…
Obrolan panjang kami harus usai
karena waktunya pulang… dan kembali ke rumah masing-masing.
And what important things that
I got from that day adalah… selain cuci mata, lebih bisa bersyukur dan bisa
mikir lebih jernih, juga dapet energi baru buat minggu depannya. Jadi misi
“menemukan sesuatunya” bisa dikatakan sukses . Mission completed!
Tidak dapat memastikan apakah doi
membacanya ini atau tidak, maybe tomorrow atau one day sekalipun.
Thanks a lot! So grateful to have that moment.
***
24 /06/2023
13.54.57
Dalam sepi yang nyatanya jelas-jelas tengah di kelilingi…
- June 22, 2023
- By Travelianew
- 0 Comments
Sebagian orang mungkin terheran-heran. Coba bayangkan saja, bagaimana bisa dikatakan sepi jika, kamu berada dalam kerumunan orang, tidak hanya satu namun belasan orang? Satu perasaan yang kerap kali membuat bias. Suara percakapan lantang yang seharusnya mampu mengisi ruang sunyi di dalam diri justru terdengar menjauh dan sama saja, meciptakan lengkingan dengan frekuensi nyaring berdenging penyebab rasa pusing.
Aku penasaran, apakah di antara banyaknya orang yang tertawa girang di sisi sana, benar-benar sedang tertawa atau sebaliknya, mereka hanya berpura-pura untuk sejenak menyisihkan air mata lara yang sebenarnya siap untuk tumpah ruah kapan saja. Jika mereka merupakan bagian yang kedua, berarti memang aku bukan satu-satunya tokoh utama.
Pernah suatu ketika, aku terperangkap di moment tersebut. Mungkin kamu juga? Rutinitas yang monoton dan terus berulang-ulang menyebabkan penat dan perasaan sepi, rasanya kosong. Berpikir bahwa, keluar dari gubug dan bersua dengan yang lainnya bisa menjadi penawarnya. Namun, ternyata salah kaprah. Teori saja tidak melulu berbanding lurus dengan realitanya. Rasa sepi justru semakin kuat memeluk, menciptakan sensasi tercekik.
Moment seperti itu tidak hanya terjadi satu atau dua kali, namun sering kali terjadi. Ketika jelas-jelas hiruk pikuk keramaian mengelilingi sekitar. Bahkan dalam obrolan yang kerap kali diselingi dengan humor receh, tetap saja tidak bisa mengalihkan kekosongan yang sedang dirasakan. Tidak ada celah sama sekali untuk melebur bersama keramaian itu. Bukan tidak ingin, tetapi memang benar-benar tidak bisa. Semakin dipaksa, justru semakin nelangsa.
Jika kamu pernah, rasanya mirip seperti ketika
mencelupkan tubuh dari ujung kaki hingga kepala. Terdengar berisik di dalam
sana, gaduh yang disebabkan oleh gelombang-gelombang air. Mengerikan! Pada
keadaan seperti itu, ingin rasanya cepat-cepat kabur. Aku jadi heran, kepada
mereka yang bisa tetap bersikap girang, seolah - olah meraka mendapatkan peran
untuk menghibur orang-orang kesepian atau yang dianggap menyedihkan. Apa tidak
lelah?
Baru-baru ini aku baru “tau”, bahwa menyendiri untuk sejenak menyisih dengan diri sendiri adalah obat termujarap untuk mengusir rasa sepi. Menyendiri memberi ruang untuk kembali menjadi diri sendiri, tidak harus berlagak dan bertingkah seolah semua biasa-biasa saja. Tanpa perlu menebar tawa haha hihi, singkatnya topeng yang mungkin saja sengaja dipasang sebagai salah satu atribut wajib dalam pertunjukan hidup ini, bisa dilepaskan barang sekejap.
Kamu bebas merasakan dan
menumpahkan segala bentuk emosi yang berkecamuk. Karena tidak seharusnya lari,
tetapi kamu perlu memvalidasi dan mengurai setiap rasa yang disebabkan karena
sebuah peristiwa. Anggap saja, kamu sedang memantulkan pikiran dan emosi mu
pada dirimu sendiri, layaknya sedang bercakap. Berkontemplasi dengan diri
sendiri, merenungi dan mengudar apapun yang sedang dirasakan dan dipikirkan.
Tahu tidak? Bahwa lebih baik
sedikit demi sedikit dirasakan kemudian diluapkan, daripada ditumpuk hingga
menggunung dan akhirnya meledak. Sama seperti bom waktu. Dengan menyendiri kamu
seolah bisa menemukan jati diri sendiri, menyingkap sisi lain diri yang belum
diketahui. Bisa disebabkan karena tidak sadar lantas jadi tak mengerti, bisa
saja menjadi bias karena terlalu tumpeng tindih dengan pemikiran dan pribadi
orang lain. Macam-macam faktornya, yang terkadang saling bergesekan dan
menjauhkan kamu dari versi asli dirimu. Hmmm.
Dan ternyata, sendiri bukan
berarti lantas terlihat menyedihkan, kamu dapat menjumpai ketenangan di dalam
sana jika berhasil mencarinya dengan cara yang benar. Lalu, riuh heboh yang
diumbar-umbar belum tentu dapat mengusir sepi. Jadi akan sangat salah, jika
mengharapkan orang lain bisa mengisi sunyi yang saat itu mungkin sedang
hinggap. Resapi saja. Barang kali kamu harus merasakan dulu bagaimana merasa
sepi, sebelum menikmati apa itu yang namanya ramai.
***
23/06/2023
A month after lebaran...setelahnya ga kemana-mana dan memilih opsi untuk "stay at home" seperti anak gadis baik-baik pada zamannya atau lebih mirip dengan "bocah kuper". Sialan, yang kedua sepertinya lebih menggambarkan fakta...
Bulan Mei 2023, hari-hari yang dilewati dengan sangat terengah-engah. Pikiran dari A-Z datang satu demi satu, bergantian setiap saat minta dinotice, hingga sampai pada titik...
Sebaliknya, jika menilik logika, maka ini yang kepalaku katakan "hey, yakin mau udahan! emang optimis dapat surga atau neraka? Iya kalo sudah pasti di antara 2 pilihan itu. Lah, kalau malah tidak sama sekali, dan tersasar ke tempat yang lain. Mau bilang apa? Bisa setelahnya, jadi arwah penasaran dan makin rendah diri karena dibully dengan para senior yang sudah terlebih dulu mati penasaran. Lalu, timbul penyesalan...sayangnya tidak ada jalan untuk kembali. Mau begitu? Kedua, kalo masih hidup aja kamu masih merasa belum bisa memberikan kebanggan untuk orang tercinta, jangan lah mati pun masih memberikan luka dan nyusahin. Cukup salah satu saja..."
Apakah sebegitu tidak layaknya aku? Sebegitu tak berharganya aku? Lantas apa?
Perlukah menghukum diri sendiri? Atau aku hardik saja orang-orang di sekitarku dan mereka yang tak sama sekali memberikan kesempatan, barang sekali?
Hari-hari yang ku mau hanya tidur, yang padahal pun setelah bangun tidur, bukannya seger... justru semakin lelah. Terkadang, untuk bernapas pun sulit, hampir-hampir lupa tata caranya, kalau saja rasa sesak di paru-paru menjadi pertanda... Isi kepala penuh dan emosi jauh dari kata stabil...
Ketika perlahan sadar dengan apa yang terjadi padaku, maka tulisan adalah yang termanjur untuk sedikitnya meredam. Namun, ketika opsi tersebut pun menjadi seolah tak mempan, maka itu pertanda untuk meluapkan. Akhirnya, ku pilih bercerita pada "seseorang", the only one. I told everything that I felt about to her, better even just little.... reda untuk sementara meskipun tidak permanen selamanya.
Then what the next..we decided to went there..."Malang". Spontanitas! tetapi feelingku mengatakan bahwa ada sesuatu berharga yang bisa ku dapat dan bawa pulang setelahnya.
Mei...Mei...Kamu berhasil membuatku rungsing dan uring-uringan dengan tak berkesudahan. Sangat berhasil!
Sekian keriwehan yang menggelora...
Internet: Mendorong Literasi Digital Generasi Muda sampai Pelosok Negeri dalam Meraih Mimpi
- May 13, 2023
- By Travelianew
- 0 Comments
Internetnya Indonesia
Dalam keseharian, kita tentu
sering mendapatkan informasi yang berlalu lalang dari kanal-kanal media, melalui
perangkat digital yang kita miliki. Terkadang informasi tersebut menjadi bahan
perbicangan dan tak jarang memantik sebuah
perdebatan. Apa saja bisa menjadi soal, perihal hal yang sederhana hingga terkesan
berbobot. Soal politik, kesehatan, pendidikan, olahraga, gaya hidup, dan masih
banyak lagi.
“Hayo, sebentar lagi bakal ada
pesta demokrasi. Kira-kira siapa calon presiden yang dijagokan?” (perkara
politik).
“Jeng! kalo diabetes, mbok ya
pola hidupnya dijaga. Saya lihat berita di Instagram, katanya begitu” (perkara
kesehatan).
“SBMPTN sudah dibuka itu! Ayo
segera daftar” (perkara pendidikan).
Kurang lebih begitu, topik-topik
yang kemungkinan bisa kita temukan. Informasi tersebut hilir mudik setiap
harinya bahkan hanya dalam hitungan detik hingga menit saja, sudah dipastikan
terjadi pembaruan informasi. Coba saja menilik Instagram! Fenomena tersebut
tidak lepas dari peranan internet.
***
Internet termasuk bagian
terpenting dalam jengkal kehidupan manusia di zaman sekarang. Mungkin dulu
internet dikategorikan dalam kebutuhan tersier, namun kini seolah eksistensinya
bergeser menjadi suatu kebutuhan primer bagi setiap orang. Bisa dikatakan
bahwa, Internet dan manusia merupakan 2
hal yang saling terhubung dan tidak terpisahkan. Manusia seakan telah
bergantung sepenuhnya dengan keberadaan internet. Bukankah begitu? Penggunaan
internet tidak terbatas pada kalangan atau komunitas tertentu, dari usia belia
hingga dewasa, kaum awam hingga yang dinilai memiliki intelektualitas tinggi, orang
desa hingga kota semua menggunakan internet untuk peruntukannya masing-masing.
Kendati demikian, apakah itu
internet? Sudahkan kita betul-betul memahami manfaat keberadaan internet?
Internet (interconnected networking) merupakan jaringan komputer yang
terhubung di seluruh dunia, sehingga memungkinkan satu individu dengan yang
lainnya untuk saling terkoneksi, baik secara real time ataupun tidak. Tak
terbatas jarak dan waktu, sehingga orang tidak perlu repot-repot untuk
melakukan perjalanan jauh menggunakan pesawat hanya untuk sekedar berbincang sekedarnya
dan tidak mendesak.
Menginjak
7 dekade semenjak pertama kali diperkenalkan pada khalayak dunia (1969),
internet berhasil memengaruhi dan mendominasi seluruh aspek kehidupan
masyarakat dunia di berbagai bidang dengan pesatnya. Menurut Ketua
Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad
Arifin kurang lebih 77% (215,63 juta orang) penduduk Indonesia telah
menggunakan internet pada periode 2022-2023. Trend penggunaan internet
Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahunnya disertai dengan petumbuhan
teknologi digital dan informasi.
Pengguna Internet Indonesia
Source : IndonesiaBaik.id
Salah satu Internet Provider di Indonesia, yakni IndiHome. IndiHome (Indonesia Digital Home) merupakan produk layanan dari PT Telkom Indonesia sebagai suatu paket layanan komunikasi dan data, salah satunya menyediakan jaringan internet yang stabil dan lancar. Berdasarkan data CNB Indonesia, jumlah pengguna internet IndiHome di Indonesia pada Q3, 2022 telah mencapai 9,2 juta dan diprediksi akan terus meningkat.
Internet sebagai Wahana Literasi Digital bagi Generasi Muda
Indonesia
Internet turut andil dalam
memberikan manfaat pada dunia pendidikan Indonesia. Peranannya dinilai cukup powerful
untuk menjadi sarana mencerdasarkan generasi muda penerus bangsa. Mengapa
demikian? Jika ditarik mundur, tragedi pandemi Covid-19 telah melumpuhkan seluruh
aktivitas masyarakat Indonesia dan dunia. Seluruh persoalan yang harusnya
diselenggarakan secara tatap muka, mau tidak mau dialihkan secara daring. Pun
halnya dengan proses pembelajaran, terdapat perubahan mekanisme secara masif
yang terjadi. Lantas bagaimana solusi penangananya? Internet jadi solusinya. Keberadaan
internet mempermudah untuk menyesuaikan diri dengan situasi.
Dua tahun lamanya, jutaan pelajar
dan mahasiswa Indonesia harus menempuh pembelajaran secara virtual. Kebiasaan
menghadap papan tulis sembari mendengarkan guru menerangkan materi, digantikan
dengan kebiasan menghadap layar monitor laptop, komputer atau hp selama
berjam-jam. Perubahan sistem tersebut ditunjang oleh keberadaan internet, kita
kenal dengan sistem belajar berbasis media daring. Bahkan hingga saat ini
kebiasaan tersebut masih diadopsi karena dinilai tetap relevan.
Sebuah konsep yang kita sebut
dengan “Literasi Digital” lebih diperkenalkan kala itu. Paul
Glister dalam bukunya, Digital Literacy (1997) mengatakan bahwa literasi
digital merupakan kemampuan untuk memahami dan menggunakan suatu informasi
dalam berbagai bentuk dan sumber yang sangat luas, diakses dan disajikan
melalui perangkat komputer (digital). Artinya, bahwa proses belajar dan menggali
informasi tidak sebatas proses belajar mengajar di kelas dengan murid yang
menyimak bahan ajar berupa textbook, sementara guru di depan kelas
menerangkan materi. Transfer knowledge dapat terjadi di manapun,
kapanpun, bersama siapapun, dan dengan cara apapun asalkan terjadi interaksi
antara peserta didik dengan lingkungannya, terjadi refleksi dan pemahaman
tentang suatu hal. Dan di era sekarang, berselancar menggunakan internet
menjadi pilihan. Terdapat ruang bagi mereka untuk bebas mengeksplorasi informasi,
berkreasi, dan menghasilkan sebuah karya melalui internet. Namun, tetap dengan batasan
berupa kepatuhan terhadap norma yang berlaku.
Konsep Literasi Digital menuntut
generasi muda untuk melek terhadap perkembangan teknologi dan mampu dengan bijak
mengelola informasi yang diterima secara cermat dan penuh kesadaran. Konsep tersebut
menjadi landasan pembelajaran yang memihak pelajar dan guru serta terbukti efektif
dalam penerapannya. Pelajar tidak perlu menjadi ketergantungan berlebih kepada
guru sebab pengetahuan yang diserap tidak satu-satunya diperoleh dari seorang
guru, sebaliknya guru pun tidak merasa terlalu terbebani dengan kewajibannya dan justru semakin merasa termotivasi. Dengan
internet sebagai sarana konektivitas dan komunikasi serta sarana untuk berbagi
dengan pelajar dan guru dari seluruh pelosok negeri mendukung terjadinya
pertukaran budaya dan informasi dari masing-masing daerah. Lantas apa
keuntungannya? mereka bisa lebih mengenal dan sadar akan perbedaan dan keunikan
yang dimiliki oleh satu sama lain, pengetahuan mereka semakin kaya akan keberagaman.
Jadi tidak ada salahnya untuk
menerapkan dan menghayati konsep tersebut. Karena Internet dan literasi digital
dapat mendorong produktivitas, kompetensi, kreativitas, dan aksesibilitas yang
tak terbatas bagi generasi muda untuk terus berprestasi dan menggapai impian.
Buah Literasi Digital bagi Generasi Muda Indonesia
IndiHome turut hadir membantu
mendorong semangat Literasi Digital bagi generasi muda Indonesia khususnya bagi
pelajar dan mahasiswa dari Sabang hingga Merauke. Jaringan internet yang cepat
dan stabil mampu menjembatani jalinan komunikasi hingga menjangkau daerah yang
sulit diakses. Generasi muda menjadi lebih leluasa untuk belajar dan menggali
sebanyak-banyaknya informasi dari beragam sumber kredibel dan terpercaya sebab
kemudahan akses yang diberikan. Terlebih bukan lagi menjadi rahasia bahwa
internet sudah seperti perpustakaan raksasa yang menyimpan miliaran ilmu
pengetahuan dari beragam bidang keilmuan. Pengetahuan yang bertambah, dapat
membuat seseorang semakin menyadari betapa banyaknya peluang yang mereka
miliki.
Kabar baiknya, beberapa di antara
mereka telah dipertemukan dengan peluang yang selaras dengan mimpi mereka dan
mampu memanfaatkannya dengan maksimal.
Salah satunya yakni Yohanes
AlvittoPua merupakan seorang mahasiswa yang berambisi mengejar asa, IndiHome
membantu proses belajar untuknya melalui kemudahan akses layanan aplikasi
digital (Zoom Meeting, Google Classroom, dan Google Meet). Selain itu juga,
mendorong kesempatan bagi Yohanes untuk mengaktualisasi diri melalui trend
webinar secara daring. IndiHome membantunya untuk mewujudkan mimpinya satu
persatu, mulai dari dipertemukan dengan tokoh-tokoh inspiratif seperti Najwa
Sihab, Angga Yunanda, dan Sandiaga Uno melalui beberapa event secara
daring. Lalu mimpi lainnya yakni menjadi penerima beasiswa Kawanua Belajar
melalui seleksi via online dan lulus SNMPTN program studi Pendidikan Dokter
Universitas Sam Ratulangi. Selain itu, Yohanes diberikan banyak kesempatan
meraih prestasi dalam beberapa event lomba. Ia berhasil mendapatkan
Medali Perunggu Tingkat Nasional dalam Festival Inovasi dan Kewirausahaan
Pelajar Indonesia Tahun 2021 Bidang Aplikasi, Game, Video, dan Animasi
Kategori Rencana bisnis, diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan berhasil menjadi
Top 5 Kategori Pendidikan dan Kebudayaan Astra Honda Motor Best Student
Tingkat Nasional Tahun 2021.
Kemudian, Imam seorang siswa SMA
di Jakarta yang berhasil meraih beasiswa studi lanjut ke luar negeri melalui
prestasinya dalam olimpiade fisika internasional. Juga Annisa. Siswi SMP di
Surabaya yang berhasil menyabet medali perak di Olimpiade Sains Nasional.
Terakhir, Amillia Kurniasari Hadi
adalah alumni dari salah satu kampus negeri di kota Bandung. IndiHome melalui program
CSR Telkom Indonesia yakni Indonesia Next Talent Season 7 memberikan kesempatan
bagi gadis muda tersebut untuk mengaktualisasikan diri melalui serangkaian
event yang diselenggarakan. Dimulai dari September 2022 pada saat pendaftaran,
kemudian seleksi pada stage webinar nasional, Hard Skill Training, Area
Bootcamp, masih berlanjut hingga sekarang dan ikut serta menjadi 100 peserta
terbaik. Di setiap stagenya memberikan pengalaman dan pembelajaran yang berkesan.
Materi yang disampaikan sangat berbobot, istilah kerennya “daging semua”.
Dengan pemateri yang kredibel dan menyenangkan. Tidak kalah penting yaitu networking,
kemungkinan untuk memperluas relasi dengan orang-orang berkelas terbuka begitu lebarnya.
Tidak sampai di situ saja, program yang dibuat juga memberikan privilege bagi
pesertanya untuk mendapatkan sertifikasi keterampilan, satu diantaranya berupa
sertifikasi SEO. Ia merasa sangat bersyukur dan antusias sekali, sehingga
selama keberjalanannya senantiasa untuk mengusahakan yang terbaik.
***
Tidak dapat dipungkiri bahwa
internet memang memegang peranan penting sebab begitu banyak aspek kehidupan
yang turut dipengaruhi tak terkecuali di bidang pendidikan. Internet menjadi
wahana eksplorasi ilmu pengetahuan dan menyongsong literasi digital bagi
generasi muda. Internet menjadi kunci pembuka kesempatan bagi generasi muda
untuk meraih prestasi dan mewujudkan mimpi. Sebab mereka yang merasa stuck
dalam hidupnya dikarenakan ketidakmampuannya dalam melihat kesempatan dan tidak
cukup memiliki keberanian untuk mencoba. Terlepas dari semuanya, diperlukan
kebijaksanaan dalam menggunakan internet dengan memanfaatkannya sebagai
jembatan untuk menggali potensi diri dan menghindari hal-hal yang memicu
kerugian di masa mendatang. Pada dasarnya semua bergantung pada pilihan, namun
setiap pilihan akan membuahkan konsekuensi tersendiri.
#InternetnyaIndonesia
#AktivitasTanpaBatas
#BerkontenRiaBersamaIndiHome
#LombaBlogIndiHome
***
(13/05/2023)
Thank You!
Enjoy the day, guys. Stay Happy and Healthy!
5 Stage of Acceptance in any Condition - Grieving Process (Part 2)
- May 06, 2023
- By Travelianew
- 0 Comments
Hai, human?
Melanjut masih tentang yang
kemarin 5 Stage of Acceptance in any Condition - Human (Part 1).
Apakah pernah kalian mengalami
konflik atas diri sendiri maupun orang lain? Sudahkah kalian mencoba untuk
berdamai?
Bagaimana kalian memulainya?
Sebab hal yang paling sulit untuk dilakukan adalah “mencoba memulainya”.
Ada kalanya kita menghadapi
situasi di mana orang terus larut dalam kedukaan. Aku pernah melihatnya,
beberapa orang dekat bahkan pernah mengalaminya sendiri. Beberapa orang memilih
untuk menghindari masalah, mereka
berupaya terus lari. Padahal sejauh apapun mereka berlari tetap akan
kembali. Artinya suatu saat akan dihadapkan kembali dengan masalah yang
sebelumnya belum selesai.
Analoginya seperti mereka berlari
pada track lari yang jalurnya melingkar. Sekencang-kencangnya berlari
tetap saja akan kembali pada garis awalnya. Apa yang mereka lakukan
sesungguhnya hanya pelampiasan sesaat. Aku prihatin jika pelampiasan yang
dilakukan justru menciptakan persoalan baru.
Mereka yang cenderung terkesan
masih saja larut dalam kedukaan sebetulnya masih terjebak di salah satu fase
atau di antaranya. Mereka hanya takut untuk menghadapinya.
***
Sebelum sepenuhnya berdamai dan
menerima situasi yang dianggap tidak mengenakkan, baik aku, kamu, atau pun
milyaran manusia di luar sana akan mengalami 5 tahap penerimaan ini. Umumnya
demikian.
5 Tahap Penerimaan Diri (Grieving Process)
1. Denial (Penyangkalan)
Seseorang akan berupaya menampik berita tidak api yang diterima. Mereka merasakan sakit dan sedikit rasa sesal, namun berusaha sekeras mungkin untuk melakukan penyangkalan dan memilih untuk tidak mempercayai situasi yang sedang terjadi.
Pernah tidak
sih, berada di dalam setuasi seperti itu? Merasa seolah – olah tidak terjadi
apa-apa dan beranggapan bahwa semua baik-baik saja. Di titik ini sering kali
mereka tidak sadar, seseorang akan memilih untuk menghindar dan lari dari
persoalan dengan mencari pelampiasan yang sebetulnya bersifat semu tidak ada
habisnya.
2. Anger (Kemarahan)
Perlahan
kemarahan akan dirasakan. Manifestasi atas kemarahan, tentu berbeda bagi tiap
individu. Ada yang tetap mengontrol diri (under control) atau lepas
control (direct control). Di fase ini, percuma saja mengajak yang
bersangkutan untuk berbicara. Apapun yang didengar akan dianggap omong kosong
semata. Inilah titik buta bagi mereka.
Terjadi dialog dengan diri sendiri. Mulai merasa sedih, menyesal, tidak percaya diri, rendah diri dan diliputi emosi negatif lain selain dari kemarahan. Mempertanyakan kemungkinan hal yang berhubungan dengan persoalan inti untuk pelan-pelan berbenah. Kemudian, mulai untuk tawar menawar dan berandai-andai perihal situasi. Tawar-menawar terjadi disebabkan “perasan tidak berdaya” dan “putus as”. Di sini fokusnya akan lebih tertuju pada kesalahan diri sendiri dan rasa sesal.
Namun sisi baiknya adalah secara sadar mulai untuk mengidentifikasi faktor -faktor yang dapat dan tidak dapat dikendalikan. Lalu, berupaya memecah persoalan menjadi detil-detil kecil sehingga dapat diperoleh solusi yang tepat. Seseorang mulai merekonstruksi kembali dan mengerjakan hal yang sedapat mungkin bisa mereka kontrol.
Kendati
demikian, meskipun sudah sadar sepenuhnya fase ini justru merupakan tahapan
sulit. Hal itu dikarenakan fase ini rasanya emosi seperti ditarik ulur secara
paksa. Ingin bebas dari persoalan yang terjadi tetapi tetap terasa sakit.
Namun, rasa sakit itulah yang sesungguhnya menandakan kalo kita sedang
bertumbuh.
Fase perantara antara bargaining dan acceptance. Mereka lebih aware dengan realita nyata dan memilih untuk to be present. Rasa sakit yang dirasakan dan emosi yang dibuat seakan naik turun berulang kali, membuat kebanyakan dari mereka merasakan fase ini. Bertanya-tanya kapan kiranya semua usai?
Mulailah menarik
diri dari dunia luar dan asik dengan diri sendiri. Banyak mengerjakan pekerjaan
secara internal dan meminimalkan pekerjaan secara eksternal. Mengapa? sebab
dengan begitu seseorang merasa tetap mempunyai kontrol atas suatu hal. They
can create a sense of importance and selfworth by themselves.
Terlihat semakin banyak menyimpan rahasia. Padahal sebetulnya satu, hanya berupaya menghindari konfrontasi dan kritik. Lambat laun, tanpa seseorang itu sadari terjadi disfungsionalitas tingkah laku dengan beragam bentuk. Misalnya, jadi pola hidup yang berantakan seperti makan tidak teratur, sering begadang, dan malas membersihkan diri. Anggapan bahwa tidak ada orang yang peduli dan merasa sendirian sebab merasa dirinya tidak berharga. Takut dihakimi dan menghadapi persepsi orang lain. Syukur-syukur tidak melakukan hal ekstrim. Menenggak racun misalnya. Atau bunuh diri?
Fase ini adalah fase paling rentan dan sangat rawan. So guys we must be aware of others around us.
Bersamaan itu, mereka
akan perlahan belajar melepaskan emosinya, kian mereda bersamaan dengan segala
kecamuknya. Ini adalah fase alami untuk tiap manusia.
Di sinilah, dengan bijak dapat menerima hal baik yang didapat, sesuatu yang mulanya dianggap tidak mengenakkan, apapun bentuknya. Tidak lagi merasakan sakit dan kehilangan berlebihan. Di sinilah titik di mana seseorang sudah betul-betul berdamai dengan keadaan atau kedukaan yang mereka hadapi. Dan terciptalah harapan-harapan baru. Alih-alih terus berkubang dalam kesedihan, maka lebih memilih untuk berjuang melakukan hal baik untuk kedepannya. Tidak berusaha merecoki masa lalu dan berandai – andai.
Memfokuskan diri pada hal yang memang dapat dikontrol dan dikendalikan, lantas memilih untuk melepaskan dan hal-hal diluar kendali diri sendiri. Sebab manusia adalah makhluk terbatas.
***
Faktanya, tidak semua orang harus
berlama-lama melalui setiap tahap penerimaan. Seiring berjalannya waktu
seseorang akan belajar dan mengenal setiap persoalan mereka terima. Sehingga
bisa saja, dari tahap 1 langsung ke tahap 5. Namun, kadang kala sebagai manusia
akan ada fase-fase di mana residu emosi itu akan tertarik kembali ke permukaan.
Membuat manusia terpaksa harus mengulang memori terkait dengan peristiwa dan
emosi pada suatu konflik tertentu. Membuat tak nyaman. Hanya saja efeknya tidak
terlalu begitu nyata, mungkin disebabkan karena sisa-sisa memori yang terekam
oleh otak dan hati manusia.
Aku pikir, semakin dewasa
seseorang dan semakin banyak peristiwa yang mereka hadapi, membuatnya menjadi
lebih bijak dalam memandang suatu persoalan. Dengan sendirinya dapat memetakan
kiranya mana masalah sepele dan masalah rumit. Alhasil, mereka tidak perlu
membuang-buang energi untuk terjebak dalam fase-fase yang tidak mengenakkan for
so long time. Kenapa? Lelah dan membuang-buang waktu.
Menurutku kebanyakan orang yang masih sulit untuk move on dari kedukaan, sekalipun yang mungkin sifatnya tidak terlalu intens disebabkan karena…
- Sudah terbiasa dengan zona nyaman dan hampir tidak pernah diterpa masalah & tekanan, sehingga membuat kesusahan untuk beradaptasi.
- Susah menerima kritik dari sembarang orang (konteks permasalahan sehari-hari).
- Belum banyak terpapar oleh pengalaman dan situasi di luaran sana.
- Pribadi yang menganut asas perfeksionis dan idealism tinggi. Sehingga gagal memetakan gap antara fakta dan gagasan ideal yang miliki.
- Mempunyai ekspektasi tinggi terhadap suatu hal.
- Terlalu bergantung dan dekat dengan seseorang dan lingkungan, sehingga sukar beradaptasi.
Bukan masalah seberapa lama atau
sebentarnya proses penerimaan diri seseorang, sebab tidak ada yang tahu benar
apa yang dilalui oleh masing-masing orang.
Kembali lagi bahwa berat atau
ringan permasalahan seseorang tidak bisa dinilai secara sepihak, begitu banyak
hal yang menjadi latar belakang. Hanya orang yang bersangkutan yang bisa
memahaminya. Dengan catatan, bahwa persoalan yang mereka hadapi tidak lantas
menjadi dasar justifikasi bagi mereka untuk berbuat seenaknya dan malah
merugikan orang lain.
***
(16/02/2023)
Enjoy the day, guys. Stay Happy and Healthy!
#Human#Berdamaidengandiri#GrievingProcess#5Stage of Acceptance
5 Stage of Acceptance in any Condition - Human (Part 1)
- May 05, 2023
- By Travelianew
- 0 Comments
Are you human?
Can you feel something or not?
Aren’t you sad or mad on worst
situation?
Biar aku bantu jawab.
PASTI PERNAH!
Sebagai seorang manusia yang
memang dikaruniai perasaan tidak cuma akal, tentu pernah mengalami fase-fase
terpuruk. Sedih? Terpuruk? Mati rasa? Hancur? Depresi? Demot? Kecewa? Kedukaan?
dan another next level negative emotion. Manusia tak dapat menampik itu.
Tapi seperti itu hidup. Kalau
tidak pernah merasakan sedih, mana pernah merasakan senang atau bahagia. Up
and down dalam hidup akan selalu ada, bahkan seiring beranjak dewasa pun
intensitasnya akan berbeda – beda. Tidak sama untuk satu dengan yang lainnya.
Penting sekali untuk untuk
memaknai setiap kejadian di dalam hidup, walapun itu pahit. Tidak cukup sampai
di situ saja. Perlu juga mengenali pola-pola kejadian demi kejadian yang pernah
terjadi. Bagaimana cara menerima dan meresapinya? Bagaimana cara memberikan
respon pada peristiwa tersebut? Bagaimana cara berdamai dengan persoalan?
Pola-pola seperti itu hanya bisa
dikenali oleh diri sendiri. Sulit tapi tidak ada salahnya apabila dicoba. Bisa
jadi di masa mendatang akan menghadapi persoalan serupa. Bedanya, aku atau pun
kamu sudah lebih siap sehingga bisa mengambil keputusan untuk take suitable
action dengan risiko yang minimum, supaya tidak perlu buang-buang energi
untuk tenggalam dalam persoalan dan overthinking ga jelas.
…
***
Manusia dan Perasaannya
Baik aku dan kamu sangat siap
untuk mendengar kabar baik, tidak peduli bagaimana situasi dan kondisinya.
Sebaliknya? Tidak akan benar-benar bersedia untuk menerima kabar tidak
mengenakkan, sekalipun sudah mempersiapkannya sebaik mungkin. Sementara,
seringkali berita-berita tidak mengenakkanlah yang acap kali terjadi secara
mendadak tanpa disertai pertanda.
Pagi yang indah di awal hari,
bisa seketika terasa menjadi teramat buruk ketika mendadak di tengah perjalanan
menuju kantor dikejutkan dengan peristiwa tabrakan antar ibu-ibu random yang
tidak patuh lalu lintas, atau di tengah jalan tiba-tiba diberi kabar bahwa anak
sakit. Lalu, bisa jadi mendapatkan telepon mendadak dari atasan di kantor,
perkara pekerjaan yang tidak beres.
Atau contoh lainnya, seperti
bencana yang beberapa waktu lalu menimpa penduduk Turki yang masih jelas
terngiah diingatan. Siapa sangka malam di mana orang tengah sibuk bergelung di
balik selimut, sekejap menjadi malam paling mengerikan sepanjang sejarah. Gempa
Bumi yang datang secara tiba-tiba, tanpa ada peringatan sebelumnya. Momen
tersebut akan menjadi duka dan trauma berkepanjangan bagi penduduk Turki.
Bagaimana mereka memberikan
respon atas peristiwa-peristiwa tersebut?
Beberapa di antaranya merasa
terkejut, mati rasa, khawatir berkepanjangan, merasa bersalah, berandai-andai
dan menganggap bahwa harusnya peristiwa itu tidak terjadi, rasa sedih, menangis
histeris, merasa hampa dan sendirian, dan lain sebagiannya.
Lantas, berapa lamakah mereka
bisa berdamai dengan keadaan? berdamai dengan diri mereka sendiri?
Jawabannya, tidak pasti! Ada
yang butuh waktu sehari, seminggu, bahkan bertahun tahun. Sebab proses
penerimaan diri (grieving process) setiap manusia itu berbeda.
Mungkin beberapa di antara kamu
merasa penasaran dengan alasan dibaliknya.
...
Faktor yang Mempengaruhi Grieving
Process
Proses penerimaan tiap orang akan
berbeda, pun dengan cara mereka memberikan respon terkait berita tidak baik
yang diterima. Jadi, baik aku atau kamu tidak punya kewenangan untuk menilai,
mencemooh atau memaksakan emosi yang menjadi bagian dari seseorang di sekitar.
Termasuk orang terdekat sekalipun, tetap tidak berhak.
Mereka butuh waktu.
Terkadang ada kondisi di mana atau
kamu mempunyai sikap dan sudut pandang yang berbeda terkait dengan proses
penerimaan diri.
Perbedaan tersebut didasarkan oleh faktor tertentu, di antaranya :
- Faktor personal (internal) berkaitan dengan level resilien, kemampuan menajemen dan kontrol emosi, seberapa besar arti sebuah kehilangan, dan orang-orang dekat yang mengiringi proses bertumbuh.
- Faktor budaya dan adat istiadat berkaitan dengan aturan dan norma yang berlaku di lingkungan tempat dibesarkan. Budaya yang berbeda tentu punya aturan dan tradisi yang berbeda. Contoh bagi kita orang berbudaya Timur ketika mendengar “hamil sebelum menikah” merupakan persoalan tabu. Sementara, bagi orang Barat sana menganggap hal tersebut sebagai suatu hal yang lumrah dan bukan menjadi masalah besar.
- Faktor situasional menyangkut waktu dan situasi kejadian. Contohnya insiden kecelakan yang membuat seseorang merasakan kehilangan secara mendadak. Atau kejadian tragis yang sebenarnya sudah berusaha diminamilisir dampaknya, seperti banjir yang menenggelamkan seluruh kota.
- Faktor traumatis berkaitan dengan pengalaman di masa lalu yang menyakitkan dan teramat berbekas, sehingga berpengaruh terhadap kontrol diri. Contohnya kehilangan orang yang dicintai, hak, kontrol diri, social support, dll.
***
(16/02/2023)
Enjoy the day, guys. Stay Happy and Healthy!
#Human#Berdamaidengandiri#GrievingProcess#5Stage of Acceptance


.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)









